Juni 23, 2021

Radio Informasi dan Hiburan

RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan laksanakan Mandatory Training karyawan karyawati

AMANDITNEWS KANDANGAN, Sebagai salah satu syarat dilakukannya visitasi oleh Dewan Syariah Nasional bagi Rumah Sakit berstandar syariah adalah telah dilakukannya Mandatory Training bagi seluruh pegawai rumah sakit. Hal ini dimaksudkan bahwa seluruh pegawai rumah sakit memiliki kompetensi dalam pemberian informasi dan pembimbingan ibadah kepada pasien dan keluarga pasien.

Pada hari senin (24/06/2019) dilakasanakan Mandatory Training Karyawan Karyawati RSUD  yang di buka secara resmi oleh Bupati Hss Achmad Fikry di lantai II Aula RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan.

Mandatory Training ini merupakan peningkatan kompetensi berupa bimbingan fikih pasien yang harus dimiliki oleh seluruh pegawai rumah sakit. Dengan kompetensi yang dimiliki ini maka diharapkan pasien dan keluarga pasien mendapat perawatan, pelayanan dan penyembuhan secara paripurna, baik secara fisik maupun spiritual.

Acara pembukaan Mandatory Training ini diawali dengan bersama-sama membaca ayat Al-Qur’an, surah Ali Imran ayat 102 – 104 yang dipimpin oleh Fitriadi, S.Pd dan dalam rangkaian acara, diisi dengan Kultum oleh Ketua MUI Kabupaten HSS, Guru H. Muhammad Riduan Basery.

Bupati HSS Drs.H.Achmad Fikry,M.AP menyatakan bahwa RSUD untuk menjadi Rumah Sakit berbasis syariah sangat ditentukan oleh sumber daya manusianya. Sebagus apapun rumah sakitnya, jika sumber daya manusianya tidak mendukung, tidak akan berjalan dengan baik.

“Tadi sudah diuraikan oleh Ketua MUI, tiga dasar dalam pelayanan yang menjadi acuan bagi kita untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Disimpulkan, tiga acuan tersebut yaitu, berbelas kasih kepada pasien, memberikan nasehat dan menerapkan sikap tawadhu dalam bekerja. Seorang petugas kesehatan, dengan senyumnya saja sudah memberikan kebaikan bagi pasien”, kata Bupati.

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pelayan masyarakat dimanapun dia ditempatkan. Untuk Rumah Sakit Syariah ini, nantinya, selain pasien yang harus dikawal sesuai ketentuan, keluarga pasien juga harus dikawal. Misalnya untuk hal-hal kecil seperti menutup rambut bagi wanita, karena rambut itu merupakan aurat bagi wanita.

Pemerintah Kabupaten HSS berusaha menggerakkan potensi-potensi yang mana saja, untuk mendapatkan keberkahan dan ridho dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Saat ini sudah ada dua himbauan yang digalakkan jajaran Pemerintah Kabupaten HSS, yaitu Pagi Mengaji dan Gerakan Seribu Rupiah. Untuk kegiatan mengaji di pagi hari, sekarang hendaknya tidak hanya lima menit sebelum beraktivitas, melainkan ditambah menjadi lima belas menit. Sedangkan untuk Gerakan Seribu Rupiah Sehari, para ASN juga tentunya bisa bersedekah lebih dari seribu rupiah setiap harinya”, ungkap Bupati.

Nanang Fahrurrazi Muhammad Noor, M.Si selaku panitia pelaksana melaporkan bahwa Rumah Sakit yang bersertifikat syariah, pada dasarnya harus memenuhi tiga indikator mutu wajib syariah. Jika salah satu tidak terpenuhi maka Rumah Sakit tidak bisa dikatakan sebuah Rumah Sakit Syariah.

Tiga indikator tersebut yaitu, pertama, pasien sakaratul maut terdampingi dengan talqin. Kedua, pemasangan kateter harus sesuai gender, dan terakhir mengingatkan waktu shalat bagi pasien dan keluarga pasien. Jika salah satu tidak ada, maka gugurlah status Rumah Sakit Syariah.

Nanang juga mengatakan ada harapan standar pelayanan minimal yang harus dipenuhi Rumah Sakit untuk mendapatkan sertifikat syariah. Salah satunya yaitu pelaksanaan Mandatory Training ini, yaitu merupakan pelimpahan atau mandat kepada pihak Rumah Sakit untuk melaksanakan kaidah-kaidah syariah, khususnya berkaitan dengan fikih dasar untuk pasien.

Dijelaskan Nanang kegiatan Mandatory Training ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran yang secara mendalam tentang pentingnya pelayanan kesehatan berbasis syariah. Kedua, memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta terkait dengan fiqih pasien. Ketiga, seluruh karyawan diharapkan mampu mendampingi pasien, berkaitan dengan ibadah pasien, saat sakit maupun sakaratul maut. Yang terakhir, kegiatan ini dilakukan dalam rangka memenuhi standar pelayanan minimal Rumah Sakit Syariah.

sekedar di ketahui Mandatory Training ini di  mulai tanggal 24 – 29 Juni 2019 khusus untuk para perawat, pihak manajemen dan tenaga non medis lainnya. Kemudian tanggal 10 Juli 2019, dilaksanakan khusus untuk tenaga medis, yaitu dokter dan dokter spesialis.

Direktur RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan, dr.Hj.Rasyidah mengatakan ,Kegiatan Mandatory Training ini merupakan langkah terakhir dan setelah mendapatkan Mandatory Training ini, kami akan mengajukan surat permohonan untuk penilaian kepada Majelis Kesehatan Islam Nasional dari Majelis Ulama Indonesia di Jakarta untuk turun kelapangan menilai dan mohon doa, mudahan kita bisa mendapatkan sertifikasi syariah dan mudahan berkah untuk HSS”.

Rumah Sakit berbasis syariah disini bukan berarti harus dilayani secara islam atau secara syariah tetapi untuk non muslim juga mendapatkan perlakuan yang sama. Kita tidak memaksakan orang dilayani dengan konsep islami tetapi juga menyiapkan para pendamping agama-agama mereka seperti pastor atau pun agama-agama lain karena kita punya kerjasama. Didepan ada Informed Consent, pasien ingin dilayani dengan agama apa. Yang muslim silahkan meminta yang muslim dan yang non muslim akan diperlakukan dengan kebutuhan masing-masing.

RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan sudah menerapkan pembagian tempat, seperti di kelas 3 ada pembagian tempat khusus untuk pasien laki-laki dan perempuan. Untuk pemasangan keteter, Insya Allah sudah dilaksanakan sesuai gender. Sedangkan untuk pelayanan, semua rumah sakit syariah tidak bisa secara penuh melakukan ini, karena keterbatasa SDM dan sebagainya. Tetapi di RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan ini lebih menerapkan pada penutupan aurat baik aurat pasien maupun yang melayani begitu juga dengan pengunjung dan penunggu pasien. RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan sudah menyiapkan hijab bagi yang lupa mengenakan hijab dan sebagainya untuk dipinjamkan.

untuk mengingatkan waktu shalat, disamping punya masjid juga punya audio. Perawat juga wajib mengingatkan waktu shalat dan membimbing pasien untuk melakukan tayamum maupun wudu, Selain itu, sekarang RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan sedang sertifikasi laundry halal.

Misda Hariyatni selaku Kasi Pelayanan menyampaikan waktu persiapan menuju Rumah Sakit berbasis syariah selama dua tahun yang dimulai dengan menyiapkan SDM nya. Selain itu juga, punya mentor dari rumah sakit yang ada di semarang untuk membimbing mulai dari makanan, perawat, pakaian dan sebagainya sampai pembangunan masjid di RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan. Selain itu, dukungan dari Pemda dan MUI yang sangat membantu RSUD Brigjend H Hasan Basry Kandangan berbasis syariah ini.

WhatsApp chat